Indahnya Kebersamaan

Indahnya Kebersamaan
Indahnya Kebersamaan

Beberapa waktu lalu aku bongkar arsip lama.
Bukan karena ada yang dicari, cuma iseng saja—mengacak-acak folder yang isinya setengah kenangan, setengah lupa.

Lalu ketemu foto ini.

Dan seperti biasa, memori langsung nyambung tanpa perlu dipaksa.
Jogja. Sekitar 2014. Timeline Twitter yang waktu itu masih terasa “hidup”.


Indahnya Kebersamaan
Indahnya Kebersamaan

Aku ingat pernah mengunggahnya.
Tanpa banyak mikir, tanpa ekspektasi apa-apa.
Hanya satu kalimat yang kutulis:

“indahnya kebersamaan.”

Dan ternyata, orang-orang berhenti di sana.
Foto itu jadi ramai, dibagikan ke mana-mana, bahkan sempat jadi photo of the week.
Lucu juga kalau diingat sekarang—sesuatu yang sederhana bisa bergaung sejauh itu.

Padahal isinya cuma satu momen yang sangat biasa.

Dua perempuan berdiri di tengah pembatas jalan, hendak menyebrang.
Di belakang mereka, kendaraan lewat seperti biasa—cepat, acuh, terus bergerak.

Nggak ada yang istimewa dari situasinya.

Tapi memang bukan situasinya yang membuat orang berhenti.

Yang satu memakai hijab.
Yang satu seorang suster.

Kontrasnya jelas.
Langsung terbaca bahkan dari pandangan pertama.

Mungkin itu yang membuat banyak orang merasa ada “sesuatu” di foto ini.
Sesuatu yang berbeda, sesuatu yang jarang dilihat berdampingan dengan begitu tenang.

Tapi buatku, sejak dulu, bukan itu inti dari semuanya.

Yang selalu menarik perhatianku justru hal yang lebih kecil—
genggaman tangan itu.

Sederhana.
Tidak dibuat-buat.
Tidak seperti sedang menunjukkan sesuatu.

Hanya dua orang yang berdiri di tengah jalan,
saling menggenggam,
menunggu waktu yang tepat untuk melangkah.

Dan mungkin di situlah semuanya terasa utuh.

Di tengah kota yang sibuk,
di antara lalu lintas yang terus berjalan,
ada satu potongan kecil yang diam tapi hangat.

Bukan tentang perbedaan.
Bukan tentang pesan besar.

Hanya tentang kebersamaan yang terjadi begitu saja.

Aku rasa, dari dulu sampai sekarang, aku melihatnya dengan cara yang sama.
Tidak ada yang berubah.

Foto ini tidak mengajarkan hal baru.
Tidak juga membuka sesuatu yang sebelumnya tersembunyi.

Ia hanya mengingatkan—dengan cara yang tenang—
bahwa hal-hal sederhana seperti ini memang layak untuk disimpan.

Dan mungkin itu alasan kenapa aku tetap menyimpannya sampai sekarang.
Kenapa aku berhenti lebih lama ketika menemukannya lagi.

Bukan untuk mencari makna baru,
tapi untuk menjaga satu momen kecil agar tidak hilang begitu saja.

Seperti dulu, dan masih sama sampai sekarang:

indahnya kebersamaan.

Komentar